Gerakan Identias Mahasiswa

LKIMBUNM.id – Mahasiswa dalam benak kita adalah sosok ideal yang sarat akan nilai. Berbagai identitas yang dialamatkan kepadanya, sosok yang penuh idealisme kritis dan analitik, sehingga diterima atau tidak, saat kaki telah dilangkahkan memasuki dunia kampus, mahasiswa punya tanggung jawab moral untuk menyandang sekaligus mempertanggung jawabkan nilai yang disandingnya tanpa ada proses tawar. Perspektif sejarah mana yang tidak mengalami kehebatan, keunggulan dan super prioritasnya Mahasiswa sebagai elemen kampus yang berperan sebagai agent of change. mahsiswa sepanjang historisnya memang telah menampakkan nilai-nilai luhur itu berbagai aksi dan peubahan lahir dari Mahasiswa, tentunya dengan bekal keberanian dan tanggung jawab sebagai wujud peran kontrol sosialnya (social of control).

Kesadaran inilah kemudian dengan berbekal idealismenya, Mahasiswa mulai mendobrak peradaban terhadap rezim yang dianggap menyimpan, dari sinilah aksi inilah lahir tanpa mengenal panas dan hujan mereka trurun kejalan bertindak menyuarakan hati nurani rakyat. Namun tantangannya bukan hanya respon iklim geografis melainkan iklim politik represif, mereka harus berhadapan dengan para aparat, dengan brikade panser menghadang dengan moncong senjata yang terkokong, tetapi apa mau dikata tekad mulia mengalahkan monster, mereka justru semakin membuat apai semangat mereka berkobar. Mungkin inilah salah satu refleksi dari kesadaran itu. Thomas S. Kuhn bahwa jika paradigma-paradigma berubah, maka dunia sendiri berubah bersamanya.

Pemihakan terhadap ideologi tertentu dalam gerakan mahasiswa memang tak bisa dihindari. Pasalnya, pada diri mahasiswa terdapat sifat-sifat intelektualitas dalam berpikir dan bertanya segala sesuatunya secara kritis dan merdeka serta berani menyatakan kebenaran apa adanya. Maka, diskursus-diskursus kritis seputar konstelasi politik yang tengah terjadi kerap dilakukan sebagai sajian wajib yang mesti disuguhkan serta dianggap sebagai tradisi yang melekat pada kehidupan gerakan mahasiswa.

Aksi Mahasiswa sebenarnya upaya terakhir setelah berbagai macam institusi pemerintahan tidak berfungsi, sudah tidak responsif terhadap perubahan serta mandulnya lembaga yang menjadi representasi rakyat, sehingga muncullah istilah “parlemen Jalanan”. Bagi beberapa gerakan aksi massa Mahasiswa menjadi paradigma “Mentok” atau keniscayaan bagi behasilnya sebuah tuntutan.

Fungsi Mahasiswa sebagai kelas menengah adalah membawa aspirasi masyarakat untuk disampaikan skepada pemerintah, serta mengoreksi penyimpangan serta kepincangan yang terjadi di tengah mesyarakat. Pada sisi yang lain dia dituntut untuk mampu menjelaskan kepada rakyat tentang kebijakan pemerintah serta menggenjot kesadarn masyarakat agar mengerti dan memmahami persoalan yang terjadi.

Konsekuensi tugas moral ini adalah mahasiswa akan bersinggungan dengan banyak elemen masyarakat, baik yang pro reformasi atau yang ingin mempertahankan status quo. Gerakan Mahasiswa adalah gerakan jalan tengah. Memikul tugas moral yang secara proporsional, serta menegakkan kembali posisinya sebagai gerakan moral. Independensi gerakan Mahasiswa bukan berarti menolak setiap upaya reformasi demi pihak tertentu, akan tetapi membuat pilihan yang selektif akan orientasi dan arah reformasi, sehingga mampu bergerak sinergis dengan elemen dalam masyarakat yang pro perubahan.

Mahasiswa mendapatkan potensi-potensi yang dapat dikualifikasikan sebagai modernizing agents. Praduga bahwa dalam kalangan mahasiswa kita semata-mata menemukan transforman sosial berupa label-label penuh amarah, sebenarnya harus diimbangi pula oleh kenyataan bahwa dalam gerakan mahasiswa inilah terdapat pahlawan-pahlawan damai yang dalam kegiatan pengabdiannya terutama (kalau tidak melulu) didorong oleh aspirasi-aspirasi murni dan semangat yang ikhlas. Kelompok ini bukan saja haus edukasi, akan tetapi berhasrat sekali untuk meneruskan dan menerapkan segera hasil edukasinya itu, sehingga pada gilirannya mereka itu sendiri berfungsi sebagai edukator-edukator dengan cara-caranya yang khas”.

Masa selama studi di kampus merupakan sarana penempaan diri yang telah merubah pikiran, sikap, dan persepsi mereka dalam merumuskan kembali masalah-masalah yang terjadi di sekitarnya. Kemandegan suatu ideologi dalam memecahkan masalah yang terjadi merangsang mahasiswa untuk mencari alternatif ideologi lain yang secara empiris dianggap berhasil. Maka tak jarang, kajian-kajian kritis yang kerap dilakukan lewat pengujian terhadap pendekatan ideologi atau metodologis tertentu yang diminati. Tatkala, mereka menemukan kebijakan publik yang dilansir penguasa tidak sepenuhnya akomodatif dengan keinginan rakyat kebanyakan, bagi mahasiswa yang committed dengan mata hatinya, mereka akan merasa “terpanggil” sehingga terangsang untuk bergerak.

Dalam kehidupan gerakan mahasiswa terdapat adagium patriotik yang bakal membius semangat juang lebih radikal. Semisal, ungkapan “menentang ketidakadilan dan mengoreksi kepemimpinan yang terbukti korup dan gagal” lebih mengena dalam menggugah semangat juang agar lebih militan dan radikal. Mereka sedikit pun takkan ragu dalam melaksanakan perjuangan melawan kekuatan tersebut. Pelbagai senjata ada di tangan mahasiswa dan bisa digunakan untuk mendukung dalam melawan kekuasaan yang ada agar perjuangan maupun pandangan-pandangan mereka dapat diterima. Senjata-senjata itu, antara lain seperti; petisi, unjuk rasa, boikot atau pemogokan, hingga mogok makan. Dalam konteks perjuangan memakai senjata-senjata yang demikian itu, perjuangan gerakan mahasiswa jika dibandingkan dengan intelektual profesional lebih punya keahlian dan efektif.

BAIHAQI ZAKARIA

Facebook Comments