Kiat Memaafkan

LKIMBUNM.id – Kehidupan sosial kita diwarnai dengan “gesekan” berupa ketersinggungan, kekecewaan, kesalahpahaman, kemarahan, kecemburuan, bahkan perselisihan pendapat, pertengkaran, makian, hujatan, perceraian, pencurian, perampokan, bahkan pembunuhan dan peperangan. Itulah “gesekan-gesekan” kehidupan sosial. Kita akrab dengan gesekan-gesekan itu. Kita temukan di media massa setiap hari, dan kita alami sebagiannya.

Sisi gelap suasana kehidupan sosial ini sangat menggangu kesenangan dan kebahagiaan kita. Bayangkan bagaimana perasaan anda jika orang yang anda sangat cintai dan dia pun mencintai anda tiba-tiba berubah menjadi sangat membenci  anda.

Bayangkanlah bagaimana perasaan  Suami-Isteri yang baru saja bercerai, dengan dua anak yang masih kecil-kecil. Bayangkan bagaimana perasaan orang-orang yang bermusuhan, lalu saling memaki, saling menghujat, saling mempermalukan.

Ada baiknya kita memandang sisi gelap suasana batin ini dengan Posotif Thinking / At-Tafkir Al-Ijabi, yaitu bahwa semua itu sebagai pelengkap  kehidupan. Dan gesekan itulah yang membuat hidup ini menjadi indah. Oleh karena keindahan hidup ini salah satu sumbernya ialah fenomena berpasangan. Yaitu bukan hanya pria yang berpasangan dengan wanita, jantan berpasangan dengan betina, tapi  langit berpasangan dengan bumi, matahari berpasangan dengan bulan, siang dengan malam, bahkan arus positif berpasangan dengan arus negatif. Di sisi lain, cinta berpasangan dengan benci, bahagia berpasangan dengan sedih,  dst. Pasangan-pasangan kontradiktif itulah yang menjadikan hidup ini indah. Kita tidak akan pernah merasakan nikmat kesehatan jika sekiranya tidak ada penyakit, tidak ada orang yang sakit. Kita tidak merasakan nikmatnya kedamaian jika sekiranya tidak ada kekacauan.

Dengan berfikir positif seperti ini, kita akan menerima gesekan-gesekan hidup ini sebagai penyedap rasa kehidupan ini yang menggairahkan, memotivasi dan mengarahkan hidup ini agar kita senantiasa berada di jalan Allah Swt. Cara berfikir seperti inilah yang akan membuat kita menjadi orang yang peramah, pemaaf, pendamai yang bahagia dan membahagiakan.

Bila kesalahan dan kekhilafan merupakaan sifat yang ada pada setiap orang, maka semestinya peramah dan pemaaf juga menjadi sifat yang seharusnya kita miliki. Sebah hanya dengan demikian, maka gesekan itu akan memperindah kehidupan kita, akan memperkuat kepribadian kita, dan akan memperkokoh hubungan social kita.

Untuk memaafkan kesalahan orang lain kita memerlukan :

  1. Memperbesar rasa cinta dan kasih sayang kepada orang lain.
  2. Mengakui dan menyadari seluruh kekurangan dan kekhilafan kita, dan bahwa kita pun menuntut untuk dipahami, dimaklumi, dan dimaafkan.
  3. Meyakini bahwa sifat pemaaf itu membahagiakan dan sifat pemarah dan pendendam itu menyusahkan.
  4. Meyakini bahwa sifat pemaaf itu – walaupun berat – tapi itulah jalan yang benar untuk memperkuat kepribadian, kedewasaan diri, dan menjadikan kita sebagai orang yang lebih bijak.
  5. Meyakini bahwa sifat pemaaf itu, cara  efektif untuk meraih Maghfirah / Ampunan dari Allah Swt.

Perjuangan untuk menjadi seorang hamba pemaaf akan mengajarkan kita banyak hikmah, banyak kebahagiaan, kemuliaan dan keindahan suasana batin dan kejernihan pikiran. Itulah ciri orang yang bertaqwa.

الَّذِيْنَ يُنْفِقُونَ فيِ السَّرَّآءِ وَالضَّرَّآءِ وَالْكَاظِمِيْنَ الغَيْظَ وَالعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِ وَاللهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ  ( ال عمران : 134 )

Artinya : yaitu orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun di waktu sempit, dan memaaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

    خُذْ العَفْوَّ وَأْمُر بِالمَعْرُوفِ وَأْعْرِضْ عَنِ الجَاهِلِيْنَ       ( الأعراف : 199 )

Itulah perintah Allah “ Jadilah engkau pemaaf dan surulah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh”

Dan demikianlah janji Allah Swt.

وَلاَ يَأْتَلِ أُوْلُوا الفَضْلِ مِنْكُم وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أولى القُرْبىَ وَالمَسَاكِين وَالمُهَاجِرِيْنَ فيِ سَبِيْلِ الله وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا عَلىَ أَنْ تحُِبُّ أَنْ  يَغْفِرَالله ُلَكُم وَاللهَ ُغَفُوْرٌ رَحِيْمٌ    ( النـور : 22 )

“ Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) memberi (bantuan) kepada kaum kerabatnya, orang-orang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada, apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu ?

Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. An-Nur: 22).

Inilah jalan perjuangan kita. Mari kita jalani bergandengan, bersama-sama menuju Rahmat dan Ridha Allah Swt.

Wallahul Muwaffiq

Penulis : Mudzakkir M. Arif, MA

Facebook Comments