Mati Sebelum Ajal Menjemput

Heri Sitakka, Jurusan: PGSD Makassar FIP UNM, Ketua Umum UKM LKIMB UNM Periode 2014-2015.

LKIMBUNM.id – Kematian bagi sebagian orang merupakan sesuatu yang menakutkan dan selalu dihindari. Kecenderungan hidup abadi dengan segala fasilitas kemewahan rupanya menjadi candu yang membawa kenikmatan sehinngga tidak ingin terpisah darinya. Tapi, apakah kematian merupakan sesuatu yang bisa dihindari atau itu menjadi sebuah keniscayaan?

Kematian seringkali diartikan sebagai momentum terpisahnya ruh dan jasad. Mari kita kritisi sedikit tentang definisi di atas. Ketika manusia mati maka jasadnya akan hancur dan akan kembali kepada unsur-unsur yang membentuknya, sedangkan ruh akan kembali kepada pemiliknya yakni Tuhan. Lantas jika demikian maka dimana kita setelah kematian? Siapa yang dihakimi oleh Tuhan? Definisi di atas tentang kematian merupakan definisi yang kurang tepat, sebab menghilangkan sebagian pada diri manusia yakni jiwa. Jiwa bukanlah ruh dan bukan pulah jasad, melainkan adalah mediator antara jasad dan ruh dan sekaligus menjadi pengejewantahan diri manusia tersebut.

Untuk memperoleh definisi kematian, mari kita mengulas lawan kata dari mati yakni hidup. Hidup merupakan sesuatu yang kita rasakan seperti saat sekarang ini, sadar akan keberadaannya, memiliki rasa, terbatas dengan banyak hal, dan kecenderungan untuk tampil sempurna. Kesadaran selalu menuntun kita untuk melakukan apa yang musti dilakukan, namu dalam melakukan apa yang hendak kita lakukan kita selalu dibatasi oleh banyak hal. Kita akan sulit melakukan sesuatu hal jika perut ini lapar dan haus, kita tidak bisa bepergian kesatu tempat ke tempat yang lainnya jika kita tidak memiliki kekuatan dan alat  transportasi.

Berhentinya jantung berdetak pada diri manusia dan keluar masuknya udara menjadi tanda kematian pada seseorang. Lantas apa yang terjadi ketika kematian datang pada manusia. Apakah manusia tetap dalam sadarnya, keterbatasan dan kecenderungannya untuk menyempurna? Tuhan berfirman “jangan kamu kira mereka yang terbunuh di jalanku itu mati, mereka hidup dan mendapatkan nikmat di sisiKu”. Tuhan menginformasikan kepada kita bahwa manusia yang mati (maksudnya adalah berhentinya detak jantung) tetap hidup dan terus menyempurna dengan kesadarannya dan terbatas pada wilayah alam yang berbeda yakni diatas alam yang kita huni saat ini.

Alam kematian, merupakan alam bagi orang-orang yang telah meninggal/mati atau merupakan alam yang berada diatas alam duniawi. Alam ini lebih dekat dari kesempurnaan yang menjadi fitrahnya manusia untuk menuju pada kesempurnaan. Dimana kesadaran akan lebih tajam dari sebelumnya, perasaan lebih sensitive namun keterbatasan lebih kurang, sebab pada alam ini bukan lagi alam materi, melainkan alam non materi. Tuhan berfirman” Pada hari itu mereka akan menyesali perbuatan mereka dan memohon kepada Tuhan agar dikembalikan  ke dunia untuk memperbaiki diri mereka”.
Dari firman Tuhan di atas, menginformasikan kepada kita bahwa ada manusia yang memasuki alam kematian dengan kondisi yang tidak siap, sehingga mereka (yang tidak siap itu) musti memaksakan diri untuk siap pada level itu. Dimana pada level kematian/alam kematian semakin dekat dengan kesempurnaan dan kesempurnaan erat kaitannya dengan kesucian Ilahi karena Dialah pemilik kesempurnaan itu. Sehingga bagi orang-orang yang tidak siap memasuki alam kematian lalu mati dalam artian orang tersebut jauh dengan kesucian Ilahi maka harus menerima konsekuensi pembersihan/ penyucian diri. Tentunya berbeda dengan penyucian pada alam duniawi dengan alam kematian, dimana pada alam itu perasaan begitu peka sehingga rasa sakit begitu luar biasa pula yang diterima dalam penyucian tersebut. Itulah sebanya orang yang tidak siap memasuki alam kematian lalu mati memohon kepada Tuhan untuk dikembalikan di dunia.

Dari penjelasan di atas kita telah memperoleh gambaran mengenai kematian dan jika kita coba untuk mendefinisikannya maka kita bisa menyimpulkan bahwa kematian merupakan perpindahan alam manusia dalam proses penyempurnaannya dimana segalah fitrah yang ada pada diri manusia akan muncul dan dibarengi dengan kesadaraan yang lebih meningkat. Pertanyaannya kemudian adalah bisakah manusia di alam duniawi ini memasuki alam kematian (dalam arti segala fitrah teraktual dan kesadaran lebih tajam) tanpa harus melawati kematian (berhentinya jantung berdetak) ?

Mari kita kembali pada firman Tuhan di atas ” Pada hari itu mereka akan menyesali perbuatan mereka dan memohon kepada Tuhan agar dikembalikan ke dunia  untuk  memperbaiki  diri mereka”. Hal ini menghimbau kepada kita bahwa manusia harus menyiapkan dirinya dalam memasuki alam kematian agar kita yang masi hidup di dunia ini terhindar dari penyesalan yang tiada taranya. Menyiapkan diri dalam memasuki alam kematian berarti mensejajarkan diri dengan orang-orang yang sudah berada di alam kematian tersebut bedanya adalah kita masi dilekati oleh jasad. Dengan begitu, berarti manusia yang masih hidup di dunia bisa memasuki alam kematian/ mensejajarkan diri dengan orang-orang sudah mati.

Kesadaran dapat diasah lebih tajam, begitu pula dengan perasaan. Bukan kah itulah tujuan manusia diperintahkan untuk terus-menerus mensyukuri nikmat-Nya dan senantiasa berzikir mengingat tuhan-Nya dikala pagi dan petang? Lantas bagaimana dengan keterikatan manusia yang hidup di dunia akan hal persoalan perut yang banyak hal membatasi ruang gerak manusia?.

Ada salah satu cerita sufi yang menarik kita simak. Dalam suatu wilayah ada seorang pengembara yang arif dan bijaksana atau kita kenal saat ini dengan istilah sufi, memasuki sebuah wilayah dan berjumpah dengan seorang pemuda. Mereka berbincang-bincang tentang banyak hal hingga membuat pemuda tersebut kagum dibuatnya dan hendak berguru pada sufi tersebut. Sang sufi bertanya sebelum menjawab kesediannya “Apa definisi makan?”. Pemuda tersebut terheran-heran kenapa diajukan pertanyaan seperti ini. Pemuda pun kemudian mencoba menjawab “ Makan adalah memasukkan sesuatu yang bisa dimakan ke dalam mulut lalu dikunya-kunya hingga halus kemudian ditelan hingga masuk kedalam perut sampai akhirnya kita merasa kenyang”. Sang sufi tersenyum dan menjawab “ Jawabanmu belum tepat, artinya kamu belum bisa jadi muridku. Jika kamu hendak jadi muridku pulanglah, carilah terlebih dahulu jawabannya dan kembalilah padaku”. Hari demi hari pemuda terus mencari jawabannya hingga akhirnya mengumpulkan beberapa jawaban dengan harapan sesuai dengan harapan sang sufi. Dari sekian banyak jawaban yang dilontarkan pemuda tersebut kepada sang Sufi, tak satu pun yang diterimahnya. Lalu pemuda itu petus asa dan bertanya langsung kepada sang Sufi definisi makan itu. Sang sufi tersenyum lalu menjawab “ Makan adalah kegiatan mengisi stamina untuk mengabdi kepada Tuhan”.

Dari cerita di atas mengingatkan kepada kita untuk memperhatikan sesuatu dari sudut pandang hakekatnya, termasuk persoalan makan/perut. Bukannya kita diciptakan untuk mengabdi kepada tuhan sebagai wakil-Nya di muka bumi ini untuk menebarkan kasih dan sayang antar sesama agar tercipta kondisi lingkungan yang damai dan tentram. Tujuan semua manusia. Menyangkut persoalan perut merupakan salah satu aspek dari sekian banyak yang membatasi manusia. Dan merupakan salah satu aksiden dari hawanafsu. Itulah sebabnya pada bulan ramadhan kita dianjurkan untuk berpuasa guna melatih pengendalian diri kita untuk tidak terlalu tergantung pada makan dan minum. Pertanyaannya adalah adakah manusia yang tetap hidup di dunia tanpa makan dan minum?

Hidup di dunia harus memiliki fisik, dan fisik membutuhkan energi, dan energi  salah satunya dapat diperoleh dari makanan. Energi dari aspek yang lainnya adalah dari sisi Tuhan. Mari kita tengok kisah Sitti Maryam As. yang diasingkan oleh orang-orang dikarenakan  dianggap hamil tanpa ada seorang ayah yang sah. Ketika itu, tidak ada satu orang pun yang memberinya makan dan minum hingga dia putus asa dan memohon kepada tuhan, “mungkin mati lebih baik untukku”. Lalu kemudian datanglah jibril yang memberinya makan.
Ini membuktikan bahwa ada manusia yang mampu berjalan diatas bumi meskipun tidak makan dan minum secara materi. Sebab tujuan makan dan minum hanyalah merupakan sebatas isi ulang energi. Dan tuhan telah menggambarkan pemberian energi itu kepada diri seorang Sitti Maryam As.

Jika demikian maka jelaslah bahwa mati sebelum mati bisa dilakukan guna melepaskan ikatan-ikatan dunia yang membelenggu dalam penyempurnaan diri. Penulis dengan tulisan ini bukan berarti sudah melepaskan ikatan-ikatan duniawi. Akan tetapi hal ini merupakan refleksi dari ceramah-ceramah sang Guru dengan daya tangkap penulis yang tergolong masih lemah. Semoga dapat memantik nalar kritis para pembaca.

Facebook Comments